the zero-sum game

mengapa otak kita sering salah mengira bahwa kesuksesan orang adalah kerugian kita

the zero-sum game
I

Pernahkah kita sedang bersantai di akhir pekan, asyik scrolling media sosial, lalu tiba-tiba melihat unggahan seorang teman lama? Di foto itu, ia tersenyum lebar memegang kunci mobil mewah atau merayakan promosi jabatan bergengsi. Reaksi otomatis jari kita mungkin langsung menekan tombol like. Tapi jujur saja, jauh di lubuk hati terdalam, ada sedikit cubitan yang mengganggu. Rasanya agak tidak nyaman. Entah bagaimana, pencapaiannya membuat kita merasa seolah... kita baru saja tertinggal. Apakah kita orang yang jahat, iri hati, dan dengki karena merasa begitu? Tentu saja tidak. Saya pun pernah merasakannya. Perasaan ganjil ini sangat manusiawi dan ternyata punya akar sains yang sangat panjang. Mari kita bedah bersama kenapa otak kita suka bermain trik seperti ini.

II

Fenomena mengganjal tadi punya nama resmi. Dalam teori permainan atau game theory, pola pikir ini disebut sebagai zero-sum game. Sederhananya, ini adalah cara pandang yang menganggap hidup adalah sebuah pertandingan dengan skor tetap. Jika teman kita menang (plus satu), maka secara otomatis kita merasa kalah (minus satu). Jumlah akhirnya harus selalu nol. Tapi dari mana datangnya pola pikir yang melelahkan ini? Jawabannya tertanam jauh di masa lalu evolusi nenek moyang kita. Ratusan ribu tahun yang lalu, manusia hidup berkelompok di padang sabana atau gua. Di masa itu, sumber daya benar-benar terbatas. Jumlah buruan sedikit, buah-buahan langka, dan lahan aman sangat berharga. Jika suku sebelah menemukan pohon apel yang lebat, itu adalah murni ancaman kelaparan bagi suku kita. Pada masa purba, dunia memang beroperasi dengan sistem zero-sum. Otak kita kemudian berevolusi dan dirancang untuk selalu waspada terhadap keuntungan orang lain demi memastikan kita bisa bertahan hidup.

III

Namun di sinilah letak masalahnya. Kita tidak lagi berburu di sabana atau berebut gua untuk tidur. Kita hidup di era modern di mana makanan bisa dipesan lewat aplikasi dan peluang terbuka lebar di mana-mana. Sayangnya, otak kita—terutama bagian amygdala yang berfungsi sebagai alarm ancaman—masih menjalankan perangkat lunak purba yang belum di-update. Kita tanpa sadar terjebak dalam ilusi kelangkaan. Otak kita ditipu oleh refleksnya sendiri. Saat melihat kesuksesan orang lain, sirkuit ancaman menyala dan otak kita berteriak panik, "Awas, jatahmu diambil!" Padahal di dunia nyata, tidak ada jatah siapa-siapa yang sedang dirampas. Pertanyaan besarnya sekarang adalah: jika kesuksesan bukanlah sebuah kue tart yang potongannya semakin mengecil saat orang lain mengambilnya... lalu apa sebenarnya bentuk kesuksesan itu menurut sains modern? Dan apakah kita dikutuk untuk terus merasa terancam selamanya?

IV

Di sinilah sejarah peradaban dan sains memberi kita kejutan yang luar biasa melegakan. Ternyata, spesies manusia tidak mendominasi bumi ini karena kita terus-terusan saling sikut. Kita memenangkan lotre evolusi justru karena kemampuan luar biasa kita menciptakan positive-sum game. Ini adalah kondisi ajaib di mana kemenangan satu orang bisa menciptakan peluang kemenangan bagi banyak orang lain. Kue tartnya tidak mengecil, teman-teman. Kuenya membesar! Mari kita pakai logika. Saat seorang ilmuwan sukses menemukan vaksin, ia tidak mengambil jatah kesehatan kita. Ia justru membuat ekosistem kita lebih kebal. Saat teman kita sukses membangun bisnis besar, ia membuka lapangan kerja, membayar pajak, dan mungkin memperluas jaringan yang suatu saat berguna bagi kita. Dalam kajian psikologi evolusioner dan ekonomi modern, kolaborasi terbukti selalu menghasilkan output yang eksponensial. Kesuksesan ternyata bersifat menular dan membangun, bukan merampas dan menghancurkan.

V

Memahami fakta ilmiah ini rasanya seperti mengangkat beban berat dari pundak kita. Kita bisa mulai berdamai dan memaafkan diri sendiri saat rasa iri itu tiba-tiba muncul. Sadari saja bahwa itu sekadar alarm purba dari dalam tengkorak kita yang sedang salah bunyi. Tugas kita sekarang adalah secara sadar melatih ulang otak kita. Bagaimana caranya? Mulailah dengan sengaja merayakan kesuksesan orang lain. Secara neurobiologis, saat kita melatih diri untuk ikut merasa senang atas pencapaian teman, otak kita justru ikut melepaskan hormon dopamin dan oksitosin. Kita sedang meretas otak kita sendiri untuk melihat dunia dengan kacamata kelimpahan, bukan kelangkaan. Jadi, nanti jika kita melihat teman flexing kebahagiaan di dunia maya, tarik napas, tersenyumlah, dan ikutlah bahagia. Kemenangan mereka bukanlah kekalahan kita. Di arena kehidupan yang luas ini, kita semua punya ruang untuk menang bersama.